IN WAITING.

Saya sedang berpikir tentang pembicaraan saya dengan teman saya beberapa waktu lalu. Sudah cukup lama kami tidak bertemu dan berbagi cerita. Jangan suruh saya menceritakan semua pembicaraan kami. Saya tidak ingat. Kan. Saya memang bukan pengingat yang baik. Hal yang saya ingat ketika teman saya mempertanyakan bagaimana bisa seseorang rela menunggu orang yang benar-benar disukainya begitu lama. Setahun, dua tahun, tiga tahun, bahkan lebih dari itu. Selama itu pula perhatiannya hanya bisa tertuju pada orang yang disukainya. Menurut saya, itu hebat. Kalau ditanya bisa atau tidak, tentu saja bisa. Dan saya yakin setiap orang pasti mempunyai alasan masing-masing ketika memutuskan untuk menunggu seseorang.

Lama tidaknya penantian seseorang itu relatif. Kesetiaan orang berbeda. Namun bukan berarti orang yang hanya menunggu enam bulan tidak setia dibandingkan dengan orang yang menunggu selama satu tahun. Bukan begitu. Ibaratnya ketika kamu mempunyai sebuah impian, namun banyak realita yang pada akhirnya memaksamu untuk merevisi impian tersebut. Kita sadar bahwa ada hal-hal tertentu yang memang sulit terjadi. Lagipula, merevisi impian juga bukan merupakan suatu hal yang buruk, bukan?

Well, there were times in life when you have to wait. Just wait.

Mungkin sama seperti saat kamu menyukai seseorang begitu ‘dalam’ sehingga rela menunggunya begitu lama. Kamu tidak bisa melihat orang lain selain dia. Boleh saja kamu menunggu dia meskipun kamu tahu, untuk bisa bersama dengan dia adalah hal yang sulit terjadi.

Atau…

Selagi menunggu dia, kenapa kamu tidak mencoba menunggu bersama dengan orang lain? Setidaknya kamu bisa menunggu sambil berbincang dengannya. Dan siapa tahu, akan ada revisi yang terjadi dan bisa menjadi hal yang lebih baik untukmu.

Berani mencoba?

Tags: life love

THE SOUNDS OF HELLO.

I’d rather hurt than feel nothing at all.

Itu yang sering saya katakan pada orang lain. Saya selalu beranggapan bahwa merasa ‘kosong’ adalah hal yang paling tidak menyenangkan. Ternyata, setelah saya pikir-pikir, kesimpulan yang saya ambil tidak sepenuhnya benar.

Berada di suatu keadaan ‘netral’ antara patah hati dan jatuh cinta kadang juga bisa menjadi hal yang menyenangkan. Yaitu ketika kita sedang tidak jatuh cinta maupun tidak patah hati―hanya menjalani kehidupan yang datar-datar saja. Lurus. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Kita bisa menghabiskan waktu dengan teman-teman kita, memperbanyak makan bersama, menulis, ataupun jalan-jalan di malam hari. Kita juga membebaskan hati kita dari tugasnya yang penuh dengan risiko. Hm, bisa dibilang semacam mengambil cuti.

Every goodbye is leading to a new hello.

Tapi itu bukan perkara mudah. Perpisahan tidak begitu saja membawa kita pada sebuah pertemuan. Saya butuh menetralkan hati saya terlebih dahulu. Saat saya sudah menjalani kehidupan (dan hati) yang datar-datar saja, siapa tahu akan ada hal lain yang bisa saya lakukan seperti,

jatuh cinta.

Mengisi waktu luang sambil jatuh cinta? Sepertinya menyenangkan.

Selebihnya, yang diperlukan hanya lebih berhati-hati terhadap pertemuan yang membawa pada perpisahan. Itu saja.

Tags: life

BELANJA.

Hal yang saya sukai dari berbelanja: perasaan bahagia ketika pada akhirnya saya menemukan pakaian yang saya inginkan setelah berpindah-pindah dari satu gerai toko ke gerai lainnya. Mungkin, berbelanja itu mirip dengan mencari jodoh. Ada banyak pilihan yang tersedia, tapi pada akhirnya hanya ada satu yang benar-benar memikat hatimu.

Untuk menemukan itu, juga tidak gampang. Butuh kejelian.

Ada kalanya kamu tidak menemukan barang yang bagus karena faktor ketidakjelianbarang tersebut ada di suatu sudut yang terlewatkan begitu saja dari pandanganmu. Atau mungkin ada pakaian yang benar-benar memikat hatimu, namun setelah melihat harga pakaian yang tidak sesuai dengan isi kantong, kamu menjadi berpikir ulang untuk membelinya. Kemungkinan lain, ketika kamu sudah mengincar untuk membeli sebuah pakaian namun secara kebetulan kamu tidak membawa uang lebih dan memutuskan kembali keesokan harinya, pakaian itu sudah terjual kepada orang lain.

Hal yang paling menyedihkan adalah ketika kamu sudah menemukan pakaian yang benar-benar sesuai dengan keinginanmu, mulai dari desain, warna, hingga harga, namun ternyata tidak ada ukuran yang pas untukmu. Kecewa? Tentu saja. Tapi mau protes pada siapa?

Ternyata, faktor keberuntungan juga dibutuhkan di sini.

Mirip dengan mencari jodoh, kan? Ada kalanya kamu menemukan seseorang yang memikat hatimu, tapi belum tentu dia orang yang tepat untukmu. Kita hanya perlu yakin, sesuatu yang sudah ditakdirkan untuk kita, pada akhirnya akan menjadi milik kita. If something is meant to be, it will happen-in the right time, with the right person, and for the best reason.

“May the odds be ever in your favor.” :)

Tags: life

THIS TOO SHALL PASS.

Pikiran saya sekarang sedang mampir ke masa lalu. Saat di mana saya mengalami yang namanya patah hati pertama kali. Begitu juga dengan patah hati kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Meskipun saya sudah lupa bagaimana rasanya patah hati yang dulu, tapi saya tahu pikiran saya saat itu pasti berkata bahwa saya tidak akan mungkin bisa move on, saya tidak mungkin bisa melupakan dia, ataupun saya tidak mungkin bisa jatuh cinta kepada orang lain selain diaPikiran yang penuh dengan rasa pesimistis. Apa cuma saya yang berpikiran seperti itu ketika patah hati? :P

Tapi ternyata pikiran saya itu salah. Buktinya saya mengalami yang namanya patah hati kedua, ketiga, dan seterusnya. Itu artinya saya masih bisa untuk move on, saya masih bisa melupakan dia, dan saya masih bisa jatuh cinta kepada orang lain selain dia, kemudian patah hati lagi. Bisa dibilang semacam siklus.

This too shall pass
Like every night that’s come before it
He’ll never give you more than you can bear
This too shall pass
So in this thought be comforted
It’s in His Hands
This too shall pass *Yolanda Adams

Nah. Yang jadi masalah sekarang adalah: saya lupa caranya lupa. Saya lupa apa yang saya lakukan dulu ketika patah hati pertama hingga pada akhirnya saya bisa move on, melupakan dia, jatuh cinta kepada orang lain, dan ujung-ujungnya saya patah hati lagi untuk kedua kalinya, ketiga kalinya, dan seterusnya. Saya benar-benar lupa caranya lupa.

Saya kelabakan. Saat ini saya masih dalam keadaan patah hati (entah yang keberapa kalinya) dan pikiran saya tetap mengatakan bahwa saya tidak akan mungkin bisa move on, saya tidak mungkin bisa melupakan dia, ataupun saya tidak mungkin bisa jatuh cinta kepada orang lain selain dia. Tolong jangan salahkan saya. Salahkan otak saya saja yang meskipun sudah tahu bahwa pikiran itu salah, tapi tetap saja terus memikirkannya. Bodoh, kan.

Terlepas dari itu semua, pada akhirnya semua akan berlalu. Meskipun dibutuhkan waktu 1 bulan, 6 bulan, 1 tahun, 2 tahun, bahkan lebih, untuk bisa berdamai dengan hati. Susah, memang. Tapi kita hanya perlu yakin, akan ada banyak kejutan di setiap belokan yang menanti kita. Ada yang datang, ada yang pergi, ada yang tetap tinggal, ada pula yang kembali. Siapa yang tahu? Siapkan saja hatimu.

Tags: love

Mana Kupu-kupu?

langit cerah sekali
ada pelangi bulat-bulat
kupu-kupu masuk ke dalam perut
menggelitik
tapi waktu iri
kupu-kupu disuruh pergi
hatimu pecah

hey, tuan
bilang pada waktu
jangan iri kepadaku
nanti aku belikan jam tangan
tapi suruh kupu-kupu kembali

perutku kosong. 

Tags: note

On Seeing The 100% Perfect Girl.

By Haruki Murakami

One beautiful April morning, on a narrow side street in Tokyo’s fashionable Harujuku neighborhood, I walked past the 100% perfect girl.

Tell you the truth, she’s not that good-looking. She doesn’t stand out in any way. Her clothes are nothing special. The back of her hair is still bent out of shape from sleep. She isn’t young, either - must be near thirty, not even close to a “girl,” properly speaking. But still, I know from fifty yards away: She’s the 100% perfect girl for me. The moment I see her, there’s a rumbling in my chest, and my mouth is as dry as a desert.

Maybe you have your own particular favorite type of girl - one with slim ankles, say, or big eyes, or graceful fingers, or you’re drawn for no good reason to girls who take their time with every meal. I have my own preferences, of course. Sometimes in a restaurant I’ll catch myself staring at the girl at the next table to mine because I like the shape of her nose.

But no one can insist that his 100% perfect girl correspond to some preconceived type. Much as I like noses, I can’t recall the shape of hers - or even if she had one. All I can remember for sure is that she was no great beauty. It’s weird.

“Yesterday on the street I passed the 100% girl,” I tell someone.

“Yeah?” he says. “Good-looking?”

“Not really.”

“Your favorite type, then?”

“I don’t know. I can’t seem to remember anything about her - the shape of her eyes or the size of her breasts.”

“Strange.”

“Yeah. Strange.”

“So anyhow,” he says, already bored, “what did you do? Talk to her? Follow her?”

“Nah. Just passed her on the street.”

She’s walking east to west, and I west to east. It’s a really nice April morning.

Wish I could talk to her. Half an hour would be plenty: just ask her about herself, tell her about myself, and - what I’d really like to do - explain to her the complexities of fate that have led to our passing each other on a side street in Harajuku on a beautiful April morning in 1981. This was something sure to be crammed full of warm secrets, like an antique clock build when peace filled the world.

After talking, we’d have lunch somewhere, maybe see a Woody Allen movie, stop by a hotel bar for cocktails. With any kind of luck, we might end up in bed.

Potentiality knocks on the door of my heart.

Now the distance between us has narrowed to fifteen yards.

How can I approach her? What should I say?

“Good morning, miss. Do you think you could spare half an hour for a little conversation?”

Ridiculous. I’d sound like an insurance salesman.

“Pardon me, but would you happen to know if there is an all-night cleaners in the neighborhood?”

No, this is just as ridiculous. I’m not carrying any laundry, for one thing. Who’s going to buy a line like that?

Maybe the simple truth would do. “Good morning. You are the 100% perfect girl for me.”

No, she wouldn’t believe it. Or even if she did, she might not want to talk to me. Sorry, she could say, I might be the 100% perfect girl for you, but you’re not the 100% boy for me. It could happen. And if I found myself in that situation, I’d probably go to pieces. I’d never recover from the shock. I’m thirty-two, and that’s what growing older is all about.

We pass in front of a flower shop. A small, warm air mass touches my skin. The asphalt is damp, and I catch the scent of roses. I can’t bring myself to speak to her. She wears a white sweater, and in her right hand she holds a crisp white envelope lacking only a stamp. So: She’s written somebody a letter, maybe spent the whole night writing, to judge from the sleepy look in her eyes. The envelope could contain every secret she’s ever had.

I take a few more strides and turn: She’s lost in the crowd. 

Now, of course, I know exactly what I should have said to her. It would have been a long speech, though, far too long for me to have delivered it properly. The ideas I come up with are never very practical.

Oh, well. It would have started “Once upon a time” and ended “A sad story, don’t you think?” 

Once upon a time, there lived a boy and a girl. The boy was eighteen and the girl sixteen. He was not unusually handsome, and she was not especially beautiful. They were just an ordinary lonely boy and an ordinary lonely girl, like all the others. But they believed with their whole hearts that somewhere in the world there lived the 100% perfect boy and the 100% perfect girl for them. Yes, they believed in a miracle. And that miracle actually happened.

One day the two came upon each other on the corner of a street.

“This is amazing,” he said. “I’ve been looking for you all my life. You may not believe this, but you’re the 100% perfect girl for me.”

“And you,” she said to him, “are the 100% perfect boy for me, exactly as I’d pictured you in every detail. It’s like a dream.”

They sat on a park bench, held hands, and told each other their stories hour after hour. They were not lonely anymore. They had found and been found by their 100% perfect other. What a wonderful thing it is to find and be found by your 100% perfect other. It’s a miracle, a cosmic miracle.

As they sat and talked, however, a tiny, tiny sliver of doubt took root in their hearts: Was it really all right for one’s dreams to come true so easily?

And so, when there came a momentary lull in their conversation, the boy said to the girl, “Let’s test ourselves - just once. If we really are each other’s 100% perfect lovers, then sometime, somewhere, we will meet again without fail. And when that happens, and we know that we are the 100% perfect ones, we’ll marry then and there. What do you think?”

“Yes,” she said, “that is exactly what we should do.”

And so they parted, she to the east, and he to the west.

The test they had agreed upon, however, was utterly unnecessary. They should never have undertaken it, because they really and truly were each other’s 100% perfect lovers, and it was a miracle that they had ever met. But it was impossible for them to know this, young as they were. The cold, indifferent waves of fate proceeded to toss them unmercifully.

One winter, both the boy and the girl came down with the season’s terrible influenza, and after drifting for weeks between life and death they lost all memory of their earlier years. When they awoke, their heads were as empty as the young D. H. Lawrence’s piggy bank.

They were two bright, determined young people, however, and through their unremitting efforts they were able to acquire once again the knowledge and feeling that qualified them to return as full-fledged members of society. Heaven be praised, they became truly upstanding citizens who knew how to transfer from one subway line to another, who were fully capable of sending a special-delivery letter at the post office. Indeed, they even experienced love again, sometimes as much as 75% or even 85% love.

Time passed with shocking swiftness, and soon the boy was thirty-two, the girl thirty.

One beautiful April morning, in search of a cup of coffee to start the day, the boy was walking from west to east, while the girl, intending to send a special-delivery letter, was walking from east to west, but along the same narrow street in the Harajuku neighborhood of Tokyo. They passed each other in the very center of the street. The faintest gleam of their lost memories glimmered for the briefest moment in their hearts. Each felt a rumbling in their chest. And they knew:

She is the 100% perfect girl for me.

He is the 100% perfect boy for me.

But the glow of their memories was far too weak, and their thoughts no longer had the clarity of fourteen years earlier. Without a word, they passed each other, disappearing into the crowd. Forever.

A sad story, don’t you think? 

Yes, that’s it, that is what I should have said to her.

TANYA.

Akhir-akhir ini saya suka menghabiskan waktu dengan membaca. Ada banyak buku bagus yang sayang sekali kalau tidak dibaca. Lagipula, buku bisa menjadi tempat tersesat yang menyenangkan, selain kamu. Nah kan, lagi-lagi saya mulai membicarakan kamu. Ya sudahlah. Toh, saya memang belum bisa lepas dari kamu, meskipun sepertinya itu tidak berlaku juga untuk kamu. Lucu ya?

Oh iya, kamu masih ingat beberapa waktu lalu saya sempat ingin bertanya sesuatu pada kamu? Saya rasa itu juga bukan hal yang penting menurutmu. I know, how dare I ask such a silly question. People said I’m totally crazy. And that’s why, I supposed to keep it to myself. Saya hanya tidak ingin membuat kamu merasa terganggu. Itu saja. I never want to force you. These are my own feelings, so, I’ll take care of it.


Tags: life love

[Flash 9 is required to listen to audio.]

Hujan dan alunan lagu Glow dari Frau. Kombinasi yang sudah cukup sempurna untuk mempersilahkan masuk kenangan yang dibawa oleh hujan, yang sedari tadi tak berhenti mengetuk jendelaku.

Hold me, you shall never ever see me
Blankets will not hesitate me
Flowers shant even wake
Kiss me, this the last time you may see me
This the last time light shall harm me
I shall cry myself to death 
Funny, how you never showed your love to me
Lovely, oh the lights I can see
It is gleaming in my eyes like when you
Burned me, tear my skin off and leave me
This the last time you may hold me
This the last time I shall say goodbye


Tags: songs

"Boleh minta tolong? Kamu saja yang memberikan sebuah titik atau koma di ceritaku. Biar pilihanmu jadi tanda seru untukku berhenti—atau terus berlari mengejarmu."

— Nahdia Nur Izzati

Tags: quotes

CEROBOH.

Ibarat sebuah lemari yang dipenuhi oleh begitu banyak barangmelebihi muatannya. Lemari itu tidak boleh dibuka. Atau setidaknya, perlu sedikit berhati-hati dalam membuka. Karena sekali lemari itu terbuka, maka barang-barang simpananmu akan berhamburan keluar.

Tapi aku ceroboh.

Beberapa waktu lalu aku tidak sengaja membukanya. Dan semua simpananku berjatuhan. Aku enggan beranjak. Ingatan ini berserakan. Mungkin lain waktu aku akan menatanya lebih rapi lagi.

Aku kacau.

Tags: life

DECEMBER 28. GADIS ITU…

December 28, 2010.

Gadis itu bertemu dengannya untuk pertama kali. Laki-laki yang dengan mudah menarik perhatiannyayang kemudianmencuri hatinya. Itu hanya sebagian kecil campur tangan semesta.

December 28, 2011.

Hari ini tepat setahun yang lalu, semenjak gadis itu bertemu dengannya untuk pertama kali. Laki-laki yang dengan mudah menarik perhatiannyayang kemudianmencuri hatinya. Gadis itu masih menyimpan perasaan yang sama seperti dulu.

Rasanya laki-laki itu tak perlu resah. Gadis itu masih setia menunggunya di tempat kesukaannya. Tempat di mana ia bisa menikmati sekantung gula-gula kapas dan segelas teh susu; sambil berjalan di bawah ratusan lampion-lampion cantik yang tergantung di udara; dan sesekali memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang; sendirian.

Ya, rasanya laki-laki itu tak perlu resah. Karena sesungguhnya, gadis itu tak pernah benar-benar membiarkannya pergi.


My room. 28 Desember, 2011. 21:06. Better Together by Jack Johnson is playing on repeat. Thanks for the soundtrack. It brought back some good old memories.

Tags: love

ISYARAT.

as days go by and fade to nights
I still question why you left
I wonder how it didn’t work out
but now you’re gone
and memories all I have for now

Ada kebingungan ketika aku memutuskan untuk membuat tulisan ini. Semacam ketidak tahuan harus memulai dari mana. Sama halnya ketika akhir-akhir ini aku memutuskan untuk tidak bermain-main dengan hatiku dulu. Membiarkannya dingin. Tapi yang ada malah terlampaui dingin. Beku. Hingga dengan satu sentuhan kecil saja sudah cukup mampu meretakkannya.

but no it’s not over
we’ll get older we’ll get over
we’ll live to see the day that I hope for
come back to me
I still believe that
we’ll get it right again
we’ll come back to life again
we won’t say another goodbye again
you’ll live forever with me

Lalu aku mengingatmu.

Tak terasa sudah hampir empat bulan aku melepasmu. Sampai detik ini, aku masih belum tahu benar tidaknya keputusanku membiarkanmu pergi—begitu saja. Dan aku, kembali diserang oleh kenanganku sendiri. Bagaimana jika—waktu itu—aku mempertahankanmu? Bagaimana jika—waktu itu—aku bersikeras tidak ingin ditinggalkan? Ah, yang sudah biarlah sudah. Aku tak pernah bisa menang dari waktu.

someday, someday
we’ll be together
someday, someday
we’ll be together

Ada saat di mana aku tersandung oleh bayanganmu. Tapi ada juga saat di mana aku bisa melangkahkan kakiku dengan ringan. Sebisa mungkin aku berlari. Menghindari posisi yang dapat membuat bayanganmu lebih tinggi daripada tinggiku sendiri. Aku tidak ingin jalan di tempat.

I heard someday
might be today
mysteries of destinies they
are somehow
and are someway
for all we know 
they come tomorrow 

Aku tak pernah bosan berbisik kepada Tuhan.

for today my eyes are open 
my arms are raised for your embrace 
my hands are here to mend what is broken 
to feel again the warmth of your face
I believe there is more to life
oh I love you much more than life
and still I believe I can change your mind
revive what is dying inside

Kita ini sepasang sepi yang terjebak dalam keheningan. Di sini aku melepaskan sebuah isyarat. Semoga terlihat olehmu.

Food Festival, 19 Desember 2011. 19:15. Terima kasih kepada John Legend dengan Someday-nya.

Tags: love life

"Aku kembali terjatuh oleh bayanganmu. Mungkin lain kali aku bisa lebih berhati-hati lagi dalam mengejar waktu."

— Nahdia Nur Izzati

Tags: quotes